Belajar tidak hanya sebatas mengetahui apa yang harus kita lakukan, melainkan melakukan apa yang tidak kita ketahui.

sebelum anda mencoba sesuatu belajarlah

sukses akan datanng kepada mereka yang sibuk mencarinya

jangan menunda sampai besok hal yanng akan kita lakukan hari ini.

kata-katamu adalah kualitas dirimu dan kualitas dirimu iti adalah ukuran kesuksesan yang pantas kamu dapatkan

Free Flower Color Change2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Jumat, 24 November 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

   Psikologi pendidikan esensinya merupakan aplikasi teori dan metode psikologi ke dalam dunia pendidikan atau pembelajaran. Metode-metode psikologi dalam banyak hal aplikatif dibidang layanan pendidikan dengan pendekatan psikologis. Metode merupakan cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, metode psikologi pendidikan adalah cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran. Aplikasi metode ini didasari atas pertimbangan, esensi, hakikat, dan prinsip-prinsip tentang prilaku siswa dalam situasi pendidikan dan pembelajaran.
Meski bukanlah seorang psikolog, aplikasi metode-metode ini kerap dipakai oleh guru Bimbingan Konseling/ Karir atau guru pada umumnya. Tentu saja, kemampuan sebagian guru relatif terbatas dibandingkan dengan psikolog dan konselor sekolah yang dikhususkan. Namun demikian, mereka ini untuk hal-hal tertentu dan dalam batas-batas tertentu pula dapat menerapkan metode tersebut untuk memahami dan memecahkan problem-problem pendidikan dan pembelajaran siswa. Aplikasi metode ini diperuntukkan bagi keperluan pemahaman kondisi awal, pengumpulan data, analisis data, refleksi, perumusan simpulan, dan rekomendasi untuk solusi. Beberapa metode yang lazim dipakai dalam psikologi pendidikan disajikan berikut ini.
1.      Metode Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data untuk mengetahui kondisi siswa dari sisi aneka keunggulan, masalah, serta prilaku dan faktor-faktor penyebabnya adalah wawancara. Instrumen yang digunakan oleh psikolog pendidikan atau guru dalam kerangka ini adalah pedoman wawancara. Metode wawancara biasannya dilakukan kepada siswa secara individual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Wawancara pada siswa yang memiliki masalah spesifik harus dilakukan secara individual. Kegiatan ini biasanya dilakukan melalui kontrak langsung secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan.
Wawancara ada dua jenis, yaitu wawancara relatif berstruktur dan wawancara bebas. Wawancara relatif berstruktur adalah wawancara yang dilakukan oleh guru kepada siswa dengan mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan disertai alternatif jawabannya, namun sangat terbuka bagi perluasan jawaban.pertanyaan yang yang diikuti alternatif jawaban itu biasanya hanya pertanyaan pertama, sebagai pertanyaan pancing untuk bertanya secara devergen atau mengembang. Jawaban yang diberikan terwawancara tidak berarti tidak dapat keluar dari alternatif yang di buat oleh guru atau psikolog pendidikan.
Wawancara tidak berstruktur identik dengan wawancara bebas dan paling umum dipakai ketika psikolog pendidikan atau guru menentukan permasalahan atau aspirasi siswa secara tiba-tiba. Di sini, psikolog pendidikan hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar siswa secara bebas. Pandangan, pendapat, sikap dan keyakinan siswa yang diwawancarai tidak banyak dipengaruhi psikolog pendidik atau guru. Pelaksanaan wawancara biasanya berlangsung secara informal, luwes dan seringkali harus dilakukan wawancara ulang untuk hal yang sama.
Pedoman wawancara hanya berupa pertanyaan atau pertanyaan singkat, dengan membuka kemungkinan menerima jawaban panjang. Untuk wawancara jenis ini, keterampilan dan kejelian psikolog pendidikan atau guru lebih dituntut. Dia harus menguasai permasalahan, agar jawaban dapat disimpulkan dan muara pembicaraan dapat dikontrol. Secara umum langkah-langkah wawancara disajikan sebagai berikut.
a.       Pembukaan, dimana psikolog pendidikan atau guru menciptakan suasana yang kondusif, memberikan penjelasan tentang fokus dan tujuan wawancara, serta waktu yang akan dipakai, dan sebagainya.
b.      Pelaksanaan, dimana psikolog pendidikan atau guru memasuki inti wawancara, sifat kondusif tetap di perlukan dan juga suasana informal.
c.       Penutup, berupa pengakhiran dari wawancara, ucapan terima kasih, kemungkinan wawancara lebih lanjut, tindak lanjut yang bakal dilakukan, dan sebagainya.
2.      Metode Intropeksi
Secara historis intropeksi adalah metode tertua dari semua metode pendidikan. Metode ini sebelumnya digunakan dalam filsafat dan kemudian dalam psikologi untuk mengumpulkan data tentang pengalaman sadar subjek. Intropeksi berarti melihat secara mendalam melalui pengamatan diri sendiri atau pribadi. Metode ini dipakai untuk memahami kesehatan mental dan keadaan  pikiran sendiri. Metode ini dikembangkan oleh penganut aliran strukturalis dalam psikologi yang mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang pengalaman sadar individu.
3.      Metode observasi
Dengan perkembangan psikologi sebagai ilmu objektif tentang prilaku, metode intropeksi digantikan oleh pengamatan seksama terhadap prilaku manusia atau  hewan. Pengamatan secara harfiah berarti mencari diluar diri. Ini adalah metode yang sangat penting untuk mengumpulkan data hampir semua jenis penelitian, termasuk dibidang psikolog pendidikan. Pengamatan dilakukan secara langsung atau tidak langsung, terjadwal atau tidak terjadwal, alami atau buatan, atau peserta dan non peserta.
Metode observasi dilakukan degan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku siswa dalam keadaan yang wajar. Kegiatan ini dilakukan oleh psikolog pendidikan atau guru secara berencana, sistematik, dan continyu. Hasil observasi dicatat atau direkam secara lengkap. Kegiatan observasi ii bisa dilakukan secara langsung, bisa juga menggunakan media teknologi. Di sekolah-sekolah modern, biasanya sudah tersedia close circuit television (cctv) untuk mengobservasi siswa yang sering terlambat, prilaku siswa dikelas dan dilaboratorium, bahkan prilaku mereka dikampus sekolah.
Kegiatan observasi tanpa bantuan teknologi sebaiknya dilakukan dengan pendekatan partisipasif. Untuk terlaksananya observasi dengan baik, psikolog pendidikan atau guru perlu menyusun pedoman atau garis-garis besar fokus observasi. Pedoman observasi itu juga bisa dalam bentuk daftar cek (chek list) atau daftar isian. Fokus objek observasi dapat terbatas dan dapat pula luas spektrumnya. Untuk fokus yang terbatas, psikolog pendidikan atau guru dapat melakukannya sendiri. Jika fokusnya luas atau banyak, seringkali psikolog pendidikan atau guru harus meminta bantuan kepada orang lain. Bantuan orang lain dapat dilakukan, jika yang meminta bantuan tersebut mempunyai kemampuan yang relatif sama dengan psikolog pendidikan atau guru.
4.      Metode Tes
Untuk mengetahui minat, bakat, potensi, tingkat kecerdasan, dan kecendrungan-kecendrungan lainnya dari siswa, seringkali psikolog pendidikan atau guru (dengan meminta bantuan psikolog) melakukan tes kepada siswanya. Ada beberapa macam tes, misalnya tes intelegensi, tes sikap, tes kecepatan reaksi, tes hasil belajar, dan sebagainya. Hasil tes ini dianalisis sedemikian rupa untuk “memporsikan” siswa sesuai dengan tujuan tes tersebut.
5.      Metode Kuisioner
Angket kuisioner adalah seperangkat pertanyaan atau pernyataan terlulis dalam lembar kertas atau sejenisnya dan disampaikan oleh psikolog pendidikan atau guru kepada siswa untuk diisi tanpa intervensi pihak lain. Kuisioner dapat bersifat terbuka atau tertutup.
Kuisioner terbuka adalah kuisioner yang berisi sejumlah pertanyaan yang jawabannya ditentukan oleh siswa tanpa perlu “dipadu jawabannya” oleh psikolog pendidikan atau guru. Psikolog pendidikan atau guru tidak menentukan alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan.sebuah kuisioner dikatakan memenuhi syarat, jika dirumuskan secara singkat dan dapat dicerna isinya, mempunyai urutan yang logis, jawaban yang diminta engacu pada fokus, mengundang jawaban bebas dari subjek, hanya untuk tujuan menjaring data bagi kepentingan pendidikan dan pembelajaran, jawaban yang ada memungkinkan ditafsirkan secara tepat, dan jimlahnya sesuai kebutuhan. Jawaban-jawaban atas kuisioner itu kemudian dianalisis dan disimpulkan.
6.      Studi Kasus
Studi kasus merupakan kajian atau penelitian mendalam tentang subjek. Studi kasus juga bermakna analisis mendalam tentang seseorang, kelompok, atau fenomena. Berbagai teknik yang digunakan dalam kerangka studi kasus antara lain adalah wawancara pribadi, tes psikometri, pengamatan langsung, dan catatan arsip. Studi kasus yang paling sering digunakan dalam psikologi klinis penelitian untuk menggambarkan pristiwa langkah dan kondisi mengenai subjek. Studi kasus semacam ini khusus yang digunakan dalam psikolog.
7.      Metode Lainnya
Beberapa metode lainnya yang dapat dipakai oleh psikolog pendidikan atau guru adalah eksperimen (baik semu maupun sungguhan), metode diferensial, metode klinis, dan sebagainnya. Metode eksperimen telah dikembangkan dalam psikologi dengan upaya terus menerus oleh para psikolog untuk membuat penelitian objektif dan ilmiah tentang prilaku manusia. Salah satu konstribusi utama behaviorisme adalah pengembangan metode eksperimental untuk memahami, megendalikan, dan memprediksi prilaku. Metode eksperimen merupakan pengamatan yang palling tepat , terencana dan sistematis. Metode percobaan menggunakan prosedur sistematis yang disebut desain eksperimental. Desain eksperimental memberikan garis penduan penting bagi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya secara sitematis.
Metode klinis terutama digunakan untuk mengumpulkan informasi rinci tentang masalah prilaku kasus tidak menyesuaikan diri dan menyimpang. Tujuan utama dari metode ini adalah studi atas kasus individu atau kasus kelompok untuk mendeteksi dan mendiagnosa masalah-masalah khusus mereka dan menyerankan langkah-langkah terapi untuk merehabilitasi mereka dilingkungan mereka. Metode diferensial digunakan untuk meneliti perbedan-perbedaan individual yang terdapat diantara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran serta menggunakan statistik untuk menganalisis data sanngat lazim dalam metode-metode psikolog. Metode klinis digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai prilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.

Referensi buku :

Prof. Dr. Sudarwan danim dan Dr. H. Khairil, PSIKOLOGI PENDIDIKAN (dalam prespektif baru), alfabet , bandung, 2011. 

AKIDAH ISLAM

AKIDAH ISLAM

1.    Pengertian Akidah Islam
Menurut bahasa aqidah berasal dari bahasa arab : ‘aqadaha-ya’qidu-uqdatan-wa ‘aqidatan. Artinnya ikatan atau perjanjian, maksudnya sesuatu yang menjadi tempat bagi hati dan hati nurani terikat kepadannya.
Perjanjian dan penegasan sumpah juga di sebut ‘aqdu. Jual belipun di sebut ‘aqdu, karena ada keterikatan antara penjual dan pembeli dengan ‘aqdu (transaksi) yang mengikat. Termasuk sebutan aqdu untuk kedua ujung baju, karena kedunaya saling terikat. ‘aqdu untuk ikatan kain sarung karena diikat dengan mantap.
Aqidah dalam istilah umum, di pakai untuk menyebut keputusan pikiran yang mantap, benar atau salah. Jika putusan yang mantap itu benar, seperti keyakinan umat islam tentang keesaan Allah, namun jika salah, itu yang di sebut akidah yang batil, seperti keyakinan umat nasrani bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum tuhan (trinitas).
Istilah akidah juga di gunakan untuk menyebut kepercayaan dan keputusan yang mantap, tegas jauh dari kebimbangan, yaitu apa-apa yang diyakini oleh seorang diikuti kuat oleh sanubarinnya, dan dijadikan mzhab atu agama yang dianutnya, tanpa melihat benar atau tidaknya.
Adapun yang di maksud dengan Akidah Islam adalah kepercayaan yang mantap kepada Allah, para malaikat-malaikat-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir qadar baik dan buruk, serta isi kandungan Al-Qur’an dan Hadis shohih berupa pokok-pokok agama, perintah, khabar dan apa yang di sepakati salafush shaleh (ijma’), dan kepasrahan totalitas kepada Allah, dalam hal keputusan hukum, perntah, takdir, syara’ serta kedudukan para rasul dengan mengikuti sunnahnya. Dengan kata lain, Akida Islam adalah pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap muslin berdasarkan dalil Aqli dan naqli (nash dan akal).
2.    Dasar Akidah Islam
Dasar akidah islam adalah Al-Qur’an dan hadis. Al-Qur’an banyak yang menjelaskan pokok akidah yang identik dengan keimanan karena keimanan merupakan pokok-pokok akidah islam. Firman Allah

                                
Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, dan rasul-rasulnya. (mereka mengatakan), “kami lain) dari rasul-rasulnya’, dan mereka mengatakan,’kami dengar dan kami taat’. (mereka berdoa),’ampunilah kami, ya tuhan kami dan kepada engkaulah tempat kami kembali.” (Q.S. Al-Baqarah: 285)

Hadist Riwayat Muslim:

أنْ تُؤْ مِنَ بِا اللهِ وَمَلاَ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْ مِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ .(رواه مسلم)

Artinya : “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitab nya, para rasulya, hari kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada qadar ketentuan baik dan buruk.” (H.R. Muslim)
3.    Tujuan Akidah Islam
Tujuan akidah islam adalah:

1.    Megingatkan kembali potensi-potensi ketuhanan sejak di alam roh. Manusia sejak di alam roh sudah mempunyai fitrah ketuhanan, sebagaimana firman Allah:
    Yang artinya:
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “bukankah aku ini tuhanmu?” mereka menjawab, “betul (engkau tuhan kami), kami bersaksi.” (kami lakukan demikian  itu) agar dihari kiamat kamu tidak menngatakan, “sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini (kesaan tuhan),” atau agar kamu tidak mengatakan: “sesungguhanya orang-orang tua kami telah mempersekutukan tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturuan yang (datang)sesudah mereka. Maka apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.”” (Q.S. Al-A’raf : 172-173)
Maksudnya agar orang-orang musrik itu jarang mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dulu telah menyekutukan Tuhan, sedangkan mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanya meniru orang-orang tua mempersekutukan tuhan itu, karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan-kesalahan orang tua mereka.
1.      Menjaga manusia dari kemusrikan
Kemungkinan manusia terperososk dalam kemusrikan terbuka lebar, baik secara terang-terangan, yakni perbuatan atau ucapan maupun kemusrikan yang bersifat sembunyi-sembunyi yang berada di dalam hati. Untuk mencegah manusia dari kemusrikan maka di perlukan tuntunan yang syarih yakni Al-Qur’an dan hadis.
2.      Menghindar dari pengaruh akal yang menyesatkan
Walaupun manusia di beri oleh Allah kelebihan berupa akal pikiran, namun manusia sering tersesat oleh akal pikirannya sendiri, sehingga akal pikiran manusia perlu di bimbing oleh Akidah Islam agar tidak sesat.
1.    Keistimewaan Akidah Islamiyah
Menurut Syekh Muhammad Ibrahim Al-Hamad, aqidah islam yang tercermin dalam ahli sunnah wal jama’ah memiliki ketinggian/keistimewaan yang tidak i miliki aqidah manapun karena aqidah islam nersumber dari wahyu yang tidak terkontaminasi dengan kebatilan.  Keistimewaan tersebut adalah:
1.        Sumber pengambilannnya adalah murni aqidah islam bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, ijma’. Artinnya sumber yang jerni jauh dari kekeliruan.
2.        Berdiri di atas pondasi penyerahan diri kepada Allah dan Rasulnya. Maksudnya orang yang beriman berdiri di atas penyerahan diri pada Allah.
3.        Sesuai dengan fitrah yang lurus dan akal yang sehat
Aqidah islam selaras dengan akal yang murni, sehat, akal murni yang bebas dari pengaruh syahwad dan syubhat tidak bertentangan dengan nash yang sahih dan bebas dari kebatilan.
4.        Jelas, mudah dan terang
Aqidah Islam adalah aqidah yang jelas mudah dan jelas, tidak ada kekaburan, kerumitan, kerancuan. Lafadznya jelas maknanya terang di pahami oleh orang awam danberilmu, karena di bawa oleh rasul yang berhati putih bersih.
5.        Bebas dari kerancuan, paradoz, dan keburukan
Aqidah Islam adalah wahyu yang tidak di masuki oleh kebatilan arah manapun datangnnya. Sebab kebenaran itu tidak mungkin rancu, paradox maupun kabur.
6.        Universal
Aqidah Islam bersifat umum universal, dan berlaku untuk segala zaman, tempat umat, dan keadaan.
7.        Kokoh stabilo dan kekal
Aqidah Islam tetap kokoh sampai hari kiamat, walaupun bertubi-tubi serangan dari musuh-musuh Islam dari kalangan yahdi, nasrani, majisi karena di lindungi oleh Allah.
8.        Mengangkat derajat para penganutnya
Aqidah yang benar adalah membenarkan pengetahuan dan akidah yang luhur. Maka muslim yang berpengetahuan ilmu syar’i dengan pondasi akidah yang benar. Akan terangkat derajatnya, Allah berfirman yang artinnya: “hai orang-orang beriman apabila di katakan kepadamu: “berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapapangan untukmu. Dan apabila di katakan:”berdirilah kamu’” maka berdirilah , niscaya Allah akan meninggikan ornga-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Mujadillah : 11).
9.        Menjadi sebab hadirnya pertolongan, kemenangan dan kemapanan.
Orang yang aqidahnya benar akan memperoleh kemengan, karena di tolong Allah. Firman Allah yang artinnya :” senantiasa ada kelompok orang dari umatku yang membela kebenaran. Mereka tidak berpengaruh oleh orang yang melecehkan mereka. Sampai datang kepuasan Allah, sementara mereka seperti itu.
10.    Selamat dan sentosa
Siapa berpegang kepada Al-qur’an dan sunnah maka dia tidak akan tersesat selamannya.
11.    Aqidah Islam adalah Akidah persatuan dan persaudaraan
Aqidah islamiyah adalah yang dianut oleh orang yang sama bertuhan pada Allah swt yang maha esa dengan nabi, rasul yang sama, hanya takwa  yang membedakannya. Firman Allah yang artinnya, “hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Q.S Al- Hujarat : 13)
12.    Istimewa
Aqidah islam adalah istimewa karena pelakunnya adalah orang-orang yang istimewa dengan jalan dan tujuan yang jelas. Menggapai ridhannya Allah swt.
13.    Mengarah manusia berakhlak mulia
Aqidah islamiyah membimbing umatnya berakhlak mulia, yang menjadi tolak ukur kehanifan, kesolehan dengan sosialisasi langsung dari manusia terbaik yaitu nabi saw. Firman allah yang artinnya, “ dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS Al Qalam : 4)

A.  AKIDAH ISLAM DAN PERMASALAHANNYA
1.    Aqidah Islam sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw
Aqidah sejak nabi adam hingga nabi Muhammad saw, sama mengesakan Allah. Setelah nabi adam wafat anak keturunannya banyak yang tersesat dan jumlahnya semakin banyak dan jauh dari Aqidah.
Ini kemudian manusia berpecah belah ada yang baik dan buruk akhlaknya.
Sebagaimana firman Allah :
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS Al-Baqarah :213)
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ﴿٥٢﴾ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٥٣﴾
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Q.S Al-Mu’minun : 52-53)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿٢٥﴾
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".(Q.S AL-Anbiyaa: 25)
2.    Jalan Para Rasul Dalam Menanamkan Akidah
Para rasul di utus untuk memurnikan akidah. Ajarannya pun mudah di pahami oleh akal sehat, bila umat memikirkan kekuasaan Allah. Dengan dakwah rasulullah, u,at yang tadinya menyembanh berhala dan patung terjerumus kelembah syirik dan kufur, dapat direhabilitasi kejalan yanng banar berakidah tauhid, umat di motivasi dengan iman dan keyakinan dengan akhlakul karimah, sehingga menjadi manusia yang terbaik sebagai umat.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Q.S Ali Imron: 110)
3.    Keragaman Aqidah Dalam Islam  Dan Permasalahannya
Awalnya kedaulatan negara tauhid yang telah di rancang rasul tetap dalam kesucian, yang berpedom pada Al-qur’an dan hadis. Yang berhasil membentuk watak dan karakter umatl sahabat pada masanya. Semua manusia dari kalangan masyarakat apapun dapat keluhuran, yang sesuia dengan kehormatan dan kemuliaan dirinnya.
Selanjutnya, setelah datang pertikaiian yang banyak berdasarkan sisat dan politik, apalagi setelah adannya hubungan dengan filsafat dan ajaran-ajaran agama lain, kemudia memmaksa otak manusia untuk menyelami sesuatu yang tidak kuasa di capainnya, itulah yang menjadi pokok terjadinnya pergantian atau penyelewengan dari jalan yang di tempuh para nabi dan arasul. Iman yang tadinhya luas dantinggi nilainnya menjadi berbagai macam pemikiran yang bersifat filsafat atau bahan kiasan yang di perselisihkan menurut ketentuan, dan pokok perdebatan dan perselisishan pendapat yang tidak berujunag dan berpangkal sama sekali.
Sebagai akibat dari perselisihan-perselisihan dalam berbagai persoalan-persoalan siasat dan politik, terjadi penyelewengan ajaran-ajaran tauhid yang di bawa para rasul, dan paham pemikiran mazhab-mazhab itu terpecah belah menjadi banyak golongan yang mempunyai ciri corak pemikiran tokohnya.
Mereka menganggap apa yang mereka yakini benar, sampai pada tingkat paling ekstrim yakni yang tidak dalam golongannya dianggap keluar dari islam (kafir). Pokok utama yang meyebebkan perselisishan dan perbedaan pendapat tersebut berkisar dalam hala-hal berikut:
1.    Apakah keimanan itu hanya sebagai kepercayaan saja ataukah kepercayaan yang ada hubungan dengan amal perbuatan.
2.    Apakah sifat-sifat Allah swt yang dzatnya itu kelal ataukah dapat lenyap darinnya?
3.    Manusia itu musayyar atau mukayyat?
4.    Apakah baik atau buruk itu dapat di kenal dengan akal atau dengan syari’at
5.    Apakah Allah dapat di lihat di akhirat atau hal itu mustahil sama sekali
6.    Bagaimana hukumnya orang yang menumpuk-numpuk dosa besar hingga mati tidak bertobat.

Jumat, 29 September 2017

Pengelolaan Pengajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara siswa di dalam suatu kelas .
Semua usaha yang dilakukan guru di dalam pembelajaran mengacu pada bagaimana memfasilitasi siswa mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Pencapaian kompetensi tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan secara langsung di dalam pembelajaran. Oleh sebab itu guru mestinya merencsiswaan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Partisipasi siswa di dalam pembelajaran sebaiknya diberikan tanggapan balik oleh guru sehingga siswa termotivasi untuk mengulangi aktivitas tersebut dengan kualitas yang lebih baik. Tanggapan yang diberikan guru sesaat setelah siswa berpartisipasi disebut penguatan atau reinforcement. Reinforcement berbeda dengan reward. Reward merupakan hadiah keberhasilan siswa yang mencapai hasil memuaskan dalam kegiatan pembelajaran. Berbagai bentuk penguatan dapat dikombinasikan oleh guru, sehingga tidak terkesan mengada-ada, tidak alami atau tidak spontan.
Keterampilan dasar memberikan penguatan perlu dimiliki oleh seorang guru, karena terkadang guru suka bersikap dingin terhadap respon yang diberikan siswa ketika di kelas. Sepertinya pemikiran tersebut tidak dihargai. Tentu hal ini dapat mengakibatkan melemahnya motivasi dalam belajar. Tanpa motivasi, mungkin tidak akan tercipta pembelajaran yang kondusif.
Dengan demikian, seorang guru harus mampu untuk menjaga motivasi belajar siswanya agar dapat mencapai suatu hasil yang optimal ketika melakukan suatu proses pembelajaran.
B.     Rumusan Masalah
A.    Keterampilan memberikan penguatan
1.      Tujuan Pemberian Penguatan
2.      Jenis- jenis Penguatan
3.      Prinsip Penggunaan Penguatan
4.      Cara Menggunakan Penguatan
5.      Penerapan dalam PPL
C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahuai:
1.      Pengertian Keterampilan Memberikan Penguatan.
2.      Jenis- Jenis Penguatan
3.      Tujuan Pemberian Penguatan
4.      Prinsip Penggunaan Penguatan
5.      Cara Mengguanakan Penguatan
6.      Latihan Penerapan Dalam Pengajaran Mikro
7.      Penerapan dalam PPL


BAB II
PEMBAHASAN
A.    KETERAMPILAN MEMBARI PENGUATAN
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verabal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatanya sebagai suatau tindak dorongan ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah suatu respons terhadap suatu tingkah lakuyang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengajar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar.
Contoh:
Guru    :”coba, kamu sebutkan salah satu sifat udara!”
            “ya, coba kamu irwan!(sambil menunjuk)
Siswa   :” udara mempunyai bentuk seperti wadahnya, bu!”
Guru    :”bagus, itu jawaban yang tepat. Ibu senang mempunyai murid yang dapat     menjawab dengan baik seperti kamu.”[1]
1.      Tujuan Pemberian Penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sifat positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
1.      Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran
2.      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
3.      Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
2.      Jenis-Jenis Penguatan
1.      Penguatan verbal
Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainnya, misalnya; bagus, bagus sekali, betul, pintar ya, seratus buat kamu! 

2.      Penguatan nonverbal
a.       Penguatan gerak isyarat, misalnya anggukan atau gelengan kepala, senyuman, kerut kening, acungan jempol, wajah mendung, wajah cerah, sorot mata yang sejuk bersahabat atau tajam memandang.
b.      Penguatan pendekatan: guru mendekati siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran, tingkah laku, atau penampilan siswa. Misalnya guru berdiri di samping siswa, berjalan  menuju siswa, duduk dekat seoorang atau sekelompok siswa, atau berjalan disisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
c.       Penguatan dengan sentuhan (contact): guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.[2] Penggunaannya harus dipertimbangakan dengan saksama agar sesuai dengan usia, jenis kelmain dan latar belakang kebudayaan setempat.
d.      Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan: guru dapat menggunakan kegiatan-kegiatan atau tugas-tugas yang disenangi oleh siswa sebagai penguatan. Misalnya seorang siswa yang menunjukan kemajuan dalam pelajaran musik ditunjuk sebagai pemimpin paduan suara di sekolahnya.
e.       Penguatan berupa simbol atau benda: penguatan ini dilakukan dengan cara menggunakan berbagai sismbol berupa benda seperti kartu bergambar, bintang plastik, lencana, ataupun komentar tertulis pada buku siswa. Hal ini jangan terlalu sering digunakan agar tidak sampai terjadi kebiasaan siswa mengharap sesuatu sebagai imbalan.
f.       Jika siswa memberikan jawaban yang hanya sebagian saja benar, guru hendaknya tidak langsung menyalahkan siswa. Dalam kedaaan seperti ini guru sebaikanya menggunakan atau memberikan penguatan tak penuh (partial). Umpamanya, bila seorang siswa hanya memberikan jawaban sebagian benar, sebaiknya guru menyatakakan , “ya, jawabanmu sudah baik, tapi masih perlu disempurnakan,” sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah, dan ia dapat dorongan untuk menyempurnakannya.

3.      Prinsip Penggunaan Penguatan
1.    Kehangatan dan keantusiasan
Sikap dan gaya guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan, akan menunjukan adanya kehangatan dan keantusiaan dalam memberikan penguatan. Dengan demikian tidak terjadi kesan bahwa guru tidak ikhlas dalam meberikan penguatan karena tidak disertai kenhangantan dan keantusiasan.
2.      Kebermaknaan
Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingakah laku dan penampilan siswa sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan. Dengan demikian penguatan itu bermakna baginya. Yang jelas jangan sampai terjadi sebaliknya.
3.      Menghindari pengunaan respon yang negatif
Walaupu teguran dan hukuman masih dapat digunakan, respon negatif yang diberikan guru berupa kometar, bercanda menghina, ejekan yang kasar perlu dihindari karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Misalnya, jika seorang siswa tidak dapat memberikan jawaban yang diharapkan, guru jangan langsung menyalahkanya, tetapi bisa melontarkan pertanyaan kepada siswa lain.[3]
4.      Cara menggunakan penguatan
a.       Penguatan kepada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas kepada siapa ditunjukan sebab bila tidak, akan kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebutkan nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
b.      Penguatan kepada kelompok
Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh suatu kelas, guru membolehkan kelas itu bermain bola voli yang menjadi kegemarannya.
c.       Pemberiaan penguatan dengan segera
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncuk tingkah laku atau respons siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberianya, cendrung kurang efektif.

d.      Variasi dalam penggunaan
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada sayu jenis saja karena hal ini akan menimbulkan kebosanan dan  lama-kelamaan akan kurang efektif.

5.      Latihan penerapan dalam pengajaran mikro
Adakah satu pelajaran singkat antara sepuluh dan lima belas menit mengenai suatu pokok bahasan tertentu. Konsultasikan dengan pembimbing bila ada yang perlu diperbaiki. Sajikan pasa kelompok agar dalam belajar itu anda dapat memperoleh urunan pendapat dan pemikiran siswa, dan berikanlah penguatan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan atau respons siswa tersebut dengan berbagai jenis penguatan. Perlu anda ketahui bahwa pengajaran yang akan anda lakukan bukanlah simulasi, melainkan pengajaran sebenarnya dalam bentuk kecil.

6.    Penerapan dalam PPL
Pada waktu anda melaksanakan PPL nanti disekolah latihan, cobalah lakukan hal-hal berikut ini:
1.      Amatilah guru pamong waktu mengajar selama satu jam pelajaran dan kerjakan hal-hal berikut:
a)      Catat jenis penguatan verbal yang dipakai oleh guru selama sepuluh menit. Hitunglah frekuensi pemakaiaan setiap jenis.
b)      Pilih seorang murid untuk diamati. Apakah ada penguatan yang diberikan kepadanya? Jika ada, dengan cara bagaimana dan bagaimana pilan reaksi anak tersebut?
c)      Perhatikan secara keseluruhan apakah guru memberikan penguatan segera pada waktu munculnya tingkah laku siswa yang perlu diberikan penguatan.
d)     Perhatikan apakah ada respon negatif yang diberikan oleh guru dan apa akibatnya.
e)      Perhatikan pula cara guru memberikan penguatan. Apakah diberikan kepada pribadi tertentu atau hanya secara umum.
2.      Teliti dan pelajari hasil pengamatan di atas serta manfaatkan hal itu dalam membuat persiapan mengajar.
3.      Waktu ada praktik mengajar disekolah latihan, mintalah bantuan teman anda untuk mengamati dan membuat catatan seperti yang anda lakukan terhadap guru pamong. Manfaatkan hasil pengamatan teman anda itu sebaik-baiknya untuk perbaikakn cara mengajar anda selanjutnya.[4]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penguatan adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu. Komponen-komponen yang terdapat dalam pemberian penguatan, antara lain penguatan verbal dan penguatan non verbal. Penguatan verbal adalah respon yang ditunjukkan secara lisan atau ucapan terhadap suatu perilaku. Penguatan non verbal adalah respon yang ditunjukkan dengan perbuatan-perbuatan yang berupa mimik, gerak badan, mendekati siswa, menyentuh, hal yang menyenangkan hati siswa, simbol atau benda, dan penguatan tak penuh.
Pemberian penguatan di dalam pembelajaran harus memperhatikan beberapa prinsip pemberian penguatan, antara lain memberikan kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan, menghindari respon negatif, pemberian penguatan dengan segera, dan memvariasikan bermacam-macam bentuk penguatan. Ada dua cara dalam menggunakan penguatan, antara lain penguatan kepada pribadi tertentu dan penguatan kepada kelompok.
Pemberian penguatan dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa kelebihan apabila dapat dilakukan dengan tepat, antara lain dapat meningkatkan perhatian dan motivasi siswa terhadap materi, dapat mendorong siswa untuk berbuat baik dan produktif, dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa itu sendiri, dapat meningkatkan cara belajar siswa menjadi aktif, dan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan belajarnya secara mandiri.
Pemberian penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan tindakan yang dilakukan siswa tersebut akan menyebabkan siswa enggan belajar. Pemberian penguatan yang berlebihan juga akan berakibat fatal.
B.     Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, para pembaca terutama untuk para calon guru atau pendidik dapat lebih mengetahui keterampilan dalam memberikan penguatan dalam proses pembelajaran. Sehingga hubungan antara guru dan siswa dapat terjalin dengan baik, dan suasana di dalam kelas tercipta menyenangkan dan tidak tegang.



DAFTAR PUSTAKA
Drs. Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.





[1] Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2003, Hlm.80

[2]Ibid, hlm.81
[3] Ibid, hlm.82
                [4] Ibid, hlm.83