Belajar tidak hanya sebatas mengetahui apa yang harus kita lakukan, melainkan melakukan apa yang tidak kita ketahui.

sebelum anda mencoba sesuatu belajarlah

sukses akan datanng kepada mereka yang sibuk mencarinya

jangan menunda sampai besok hal yanng akan kita lakukan hari ini.

kata-katamu adalah kualitas dirimu dan kualitas dirimu iti adalah ukuran kesuksesan yang pantas kamu dapatkan

Free Flower Color Change2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Minggu, 26 November 2017

Argumentasi dalam Akidah


Dalil Atau Argumentasi Dalam Akidah

Dalil ialah keterangan yang dijadikan bukti sesuatu kebenaran.[1] Dalil bisa dijadikan bukti penguat yang mendukung argumentasi seseorang. Petunjuk atau tanda bukti dari suatu kebenaran, untuk menentukan bahwa sesuatu itu benar atau salah, sekaligus untuk menghapus rasa was-was dalam hati atas suatu kebenaran.
Dalil dalam akidah ada dua yaitu:

a.         Dalil ‘Aqli
Dalil Aqli adalah dalil yang didasarkan pada penalaran akal yang sehat.[2] Akal merupakan indera yang diciptakan oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan melahirkan sejumlah aktifitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia.
Dalil aqli juga bisa diartikan sebagai sebuah petunjuk dan pertimbangan akal fikiran yang sehat dan obyektif, yang tidak dipengaruhi oleh nafsu dan ambisi. Jadi dalil ini adalah penalaran secara murni dan bebas, dan kebenarannya relatif.
b.        Dalil Naqli
Dalil Naqli adalah dalil yang didasarkan pada al-Qur’an dan sunnah.[3]
Walaupun akal manusia dapat menghasilkan kemajuan ilmu dan teknologi, namun harus didasari bahwa betapapun kuatnya daya pikir manusia, ia tidak akan mampu mengetahui hak zat Allah swt yang sebenarnya. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki yang ghaib, untuk mengetahui yang ghaib itu kita harus puas dengan wahyu Allah. Wahyu itu yang disebut dalil Naqli.
Kebenaran dalil Naqli ini bersifat Qat’iy (pasti), kebenaranya mutlak serta berlaku untuk semua ruang dan waktu. Dalil Naqli ada dua yaitu al-Qur’an dan hadis Rasul. Hal-hal yag tidak dapat dijangkau oleh akal, cukup diyakini kebenarannya tanpa harus membuktikan dengan akal. Termasuk kedalam bagian ini adalah hakikat hal-hal yang ghaib, seperti kiamat, alam barzah, alam makhsyar, surga, neraka, malaikat dan sebagainya.[4]
Akidah islami adalah iman kepada Allah swt, para malaikat Nya, kitab-kitab Nya, para Rasul Nya, hari akhir, kepada qada dan qodar.
Suatu dalil untuk masalah iman, adakalanya bersifat aqli dan naqli, tergantung perkara yang diimani. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra atau akal, maka dalil keimanan nya berifat aqli, tetapi jika tidak (yaitu diluar jangkauan panca indra), maka ia didasarkan pada dalil naqli.
Di antara ayat Al-Qur’an dan hadist yang memuat kandungan akidah islam, antara lain:

a.         Q.S. Al-Baqarah (2): 285, yang artinnya:

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, dan rasul-rasulnya. (mereka mengatakan), “kami lain) dari rasul-rasulnya’, dan mereka mengatakan,’kami dengar dan kami taat’. (mereka berdoa),’ampunilah kami, ya tuhan kami dan kepada engkaulah tempat kami kembali.” (Q.S. Al-Baqarah: 285).

b.        Hadist Riwayat Muslim:

Artinya : “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitab nya, para rasulya, hari kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada qadar ketentuan baik dan buruk.” (H.R. Muslim)[5]
Sebagai seorang muslim sudah semestinya beriman kepada Allah, karena itu merupakan suatu kewajiban. Selain beriman kepada Allah malaikat Allah pun wajib diimani karena mengimani malaikat berarti memahami adanya relasi antara malaikat engan manusia, jadi malaikat merupakan bagaian dari sistem jatidiri manusia, sama halnya dengan setan. Iman kepada rasul Allah juga berarti kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa Rasulullah itu benar-benar utusan Allah yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan kepada kita. Dan juga meyakini dengan sepenuh hati adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi. Dan meyakini adanya hari kiamat yang pastinya akan terjadi dan menimpah umat manusia diseluruh jagat raya ini. Iman kepada qada dan qadar berarti meyakini ketetapan dan kuasanya Allah swt.
Sesungguhnya, semua manusia yang lahir kedunia ini memiliki ikatan kepada Allah. Dengan kata lain, manusia lahir telah memiliki Akidah. Firman Allah dalam  Q.S al-A’Raf ayat 172 yang artinya:
“Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “bukankah aku ini tuhanmu?” mereka menjawab, “betul (engkau tuhan kami), kami bersaksi.” (kami lakukan demikian  itu) agar dihari kiamat kamu tidak menngatakan, “sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Q.S. Al-A’raf : 172).
Inilah salah satu penjelasan mengapa Rasulullah saw. Menegaskan bahwa semua manusia dimuka bumi ini lahir dalam  keadaan fitrah (suci). Dengan kata lain telah memiliki Akidah atau ikatan dengan Allah.[6]






[1] Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 115.
[2]Kementerian Agama, Akidah Akhlak, h. 6
[3] Ibid.,
[4]Kementrian Agama, Akidah Akhlak, h. 6.
[5]Rosihon Anwar, Akidah Islam, h. 14.
[6]Taofik Yusmansyah, Akidah dan Akhlak, h .5-6.

Sabtu, 25 November 2017

Ruang Lingkup Sejarah Kebudayaan Islam

            

        A. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam
Sejarah dalam bahasa Arab berasal dari kata sajaratun yang berarti pohon. Apa yang terjadi pada masa lampau merupakan cerminan atau pelajaran masa kini dan yang akan datang. Sejarah dalam pandangan Islam tidak hanya berbicara masalah data dan fakta, akan tetapi sejarah merupakan dialektikal nilai, pertarungan nilai. Karena sejarah membawa identitas sebuah identitas masyarakat akan masa lalu nya.[1]Jadi sejarah adalah peristiwa atau kejadian masa lalu tidak hanya sekedar memberi informasi tentang terjadinya peristiwa, tetapi juga memberi interpretasi atas peristiwa yang terjadi dengan melihat pada hukum sebab akibat.
Kata peradaban secara etimologi adalah terjemah dari kata Arab al-hadharah. Istilah Arab ini juga sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan”. Padahal istilah kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-atsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak yang mensinominkan dua kata: “ kebudayaan” al-tsaqafah (Arab) dan culture (Inggris) dengan “peradaban” al-hadharah (Arab) dan civilization (Inggris) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan teknis dan teknologi lebih berkaitan dengan peradaban. Kebudayaan lebih banyak difleksikan dalam seni, sastra, agama dan moral, maka peradaban terfleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Kata “ kebudayaan” berasal dari bahasa sansekerta “budhayah”, ialah bentuk jamak dari “budhi” yang berarti “budhi” atau “akal”. Demikian, kebudayaan itu dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Disamping itu ada pula ahli yang berpendapat bahwa kata “kebudayaan” berasal dari kata “budi” dan “daya”. Budi berarti “‘akal-fikiran” dan daya berarti “tenaga, kekuatan dan sanggupan”. Maka kebudayaan mengandung makna leburan daripada dua makna tadi, dan artinya himpunan segala usah dan daya yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi, untuk memperbaiki sesuatu dengan tujuan mencapai kesempurnaan.[2]
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa kebudayaan sering diartikan  sama dengan peradaban. Kebudayaan  sebagai bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan peradaban sebagai bentuk manifestasi-manifestasi kemajuan teknis dan teknologi .
Pada umumnya para ahli membagi agama menjadi 2, yaitu: agama samawi (wahyu) dan agama ardhi (budaya). Agama samawi adalah agama ciptaan Allah yang kemudian melalui utusannya disampaikan kepada umat manusia. Sedangkan agama ardhi adalah agama yang diciptakan manusia.
Definisi agama, Sidi Gazalba berpendapat bahwa agama Islam adalah: “Kepercayaan kepada Allah dan melakukan ibadah kepada-Nya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, yang membentuk taqwa”. Hakikat definisi tersebut adalah habl min Allah (hubungan manusia dengan Allah). Jadi apabila didefinisikan  dengan kebudayaan Islam. Kebudayaan Islam ialah cara berfikir dan cara merasa taqwa yang menyatakan diri dalam seluruh aspek kehidupan sekumpulan manusia dengan membentuk masyarakat. Esensi definisi kebudayaan Islam ialah cara hidup, dan esensi definisi kebudayaan Islam ialah cara hidup taqwa.[3]
Landasan peradaban Islam adalah kebudayaan Islam terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudayaan Islam adalah agama. Jadi dalam Islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama bumi (ardhi), agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Jika kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Tuhan.[4]
Dari definisi sejarah, kebudayaan, Islam dapat disimpulkan bahwa sejarah kebudayaan Islam adalah peristiwa atau kejadian umat-umat Islam terdahulu yang dijadikan sebagai kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia saat ini sebagai pedoman untuk menjadi lebih baik serta bahagia dunia akhirat.

B.       Ruang Lingkup Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang lingkup sejarah kebudayaan Islam sebagai berikut:
1.    Dakwah Nabi Muhammad SAW.
2.    Kepemimpinan umat Islam setelah Nabi wafat.
3.    Perkembangan Islam periode klasik atau zaman keemasan (pada tahun 650-1250 M).
4.    Perkembangan Islam pada abad pertengahan atau zaman kemunduran (pada tahun 1250-1800 M).
5.    Perkembangan Islam pada abad modern atau zaman kebangkitan (pada tahun 1800 M- sekarang).
6.    Perkembangan Islam di Indonesia.

Adapun penjelasan mengenai klasifikasi ruang lingkup pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di atas antara lain sebagai berikut:
a.         Ruang lingkup tentang dakwah Nabi Muhammad SAW pada periode Mekkah dan Madinah ini ditandai dengan perjuangan Nabi Muhammad sebelum masa kerasulan dan saat masa kerasulan dalam menyampaikan dakwah Islam baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan di kota Makkah hingga peristiwa hijrahnya beliau bersama kaum muslimin ke kota Madinah dan membentuk negara Islam di kota tersebut sampai peristiwa wafatnya Rasulullah SAW.
b.         Ruang lingkup tentang masa kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah SAW wafat ditandai dengan pengangkatan empat sahabat Rasul yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Khatab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi  Khalifah Rasulillah(pengganti Rasul) untuk memimpin umat Islam dan sistem pemerintahan Islam selama kepemimpin empat sahabat Rasul ini disebut sebagai masa Khalifatur Rasyidin (pemimpin yang diberikan petunjuk).
c.           Ruang lingkup tentang perkembangan Islam periode klasik atau zaman keemasan (tahun 650 M-1250 M) merupakan masa permulaan Islam yang ditandai dengan lahirnya dinasti bani Umayyah di Damaskus, dinasti bani Abbasiyyah di Baghdad, dinasti bani Umayyah II di Andalusia sampai hancurnya dinasti bani Abbasiyyah IV yang sering disebut sebagai masa disintegrasi.
d.        Ruang lingkup tentang perkembangan Islam pada abad pertengahan atau kemunduran (tahun 1250 M-1800 M) dibagi ke dalam dua fase, yaitu: a.) fase kemunduran (tahun 1250 M-1500 M) yang ditandai dengan hancurnya kerajaan Islam oleh serangan bangsa Mongol dan lahirnya dinasti Ilkhan, serangan-serangan Timur Lenk terhadap wilayah kerajaan Islam sampai bertahannya dinasti Mamalik di Mesir dari serangan bangsa Mongol maupun Timur Lenk. b.) fase tiga kerajaan besar (1500 M-1800 M) yang dimulai dengan zaman kemajuan (tahun 1500 M-1700 M) kerajaan Utsmani, Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India sampai zaman kemunduran tiga kerajaan ini (tahun 1700 M-1800 M).
e.         Ruang lingkup tentang perkembangan Islam pada abad modern atau zaman kebangkitan (tahun 1800 M-sekarang) ditandai dengan lahirnya para tokoh pembaharu Islam dengan segala macam bentuk pemikiran dan kontribusinya terhadap perkembangan Islam. Tokoh-tokoh pembaharu tersebut yakni: a. Muhammad ibn Abdul Wahab, b. Jamaluddin al-Afghani, c. Muhammad Abduh, d. Muhammad Rasyid Ridha, e. Kamal Ataturk, dan f. Muhammad Iqbal.
f.          Ruang lingkup tentang perkembangan Islam di Indonesia ditandai dengan proses masuknya Islam di Indonesia, pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, lahirnya ulama-ulama di Indonesia, peranan walisongo dalam penyebaran Islam dan sejarah berdirinya organisasi keIslaman seperti: a.) Muhammadiyah, dan b.) Nahdatul Ulama (NU).[5]
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa ruang lingkup sejarah Kebudayaan Islam ialah perjalanan dakwah Rasulullah sampai dengan kepemimpinan umat setelah rasulullah dan perkembangan Islam di masa keemasan, kemunduran dan kebangkitan serta perkembangan Islam di Indonesia.

        C.      Tujuan Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam
      Tujuan mempelajari sejarah kebudayaan Islam sebagai berikut:
1.    Untuk menyelidiki dan mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai oleh Umat Islam terdahulu dalam lapangan peradaban.
2.    Untuk mengetahui perkembangan peradaban Islam diberbagai negara, terutama negara-negara Islam.
3.    Untuk menggali dan meninjau kembali faktor-faktor apa yang menyebabkan kemajuan Islam dalam lapangan peradaban dan faktor apa pula yang menyebabkan kemundurannya, yang kemudian menjadi cermin bagi masa-masa sesudahnya.
4.    Untuk mengetahui dan memperbandingkan antara peradabaan yang dijiwai oleh Islam dengan peradaban yang lepas dari jiwa Islam, dan dari sini akan diketahui mana peradaban Islam dan mana pula peradaban non Islam yang dicetuskan oleh hasil karya umat Islam.
5.    Dengan mempelajari sejarah peradaban Islam kita akan mengetahui sumbangan Islam dan umat Islam dalam lapangan peradaban umat manusia di permukaan bumi ini.[6]
Berdasarkan tujuan mempelajari sejarah kebudayaan Islam diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari sejarah kebudayaan Islam adalah untuk mengingatkan kita akan masa lalu umat-umat terdahulu, baik yang patuh kepada Allah dan Rasulnya serta dijadikan sebagai pegangan atau teladan agar menjadi manusia yang lebih baik lagi bahagia dunia dan akhirat.


 Referensi Buku :

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam.  Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2011.

Fadli SJ. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN Malang Press. 2008.

M. Darwin. Sejarah Peradaban Dan Kebudayaan Islam. Metro : STAIN jurai Siwo Metro. 2013.

Siti Marqiyah. Hubungan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ( SKI ) Dengan Kecerdasan Kognitif Siswa Kelas XII MA. Al-Falah Jakarta. 2011.




[1]M. Darwin, Sejarah Peradaban Dan Kebudayaan Islam, (Metro : STAIN jurai Siwo Metro, 2013),    h.1.

[2]Fadli SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm.11-13.
[3]Ibid. 21-22
[4]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.2.
[5]Siti Marqiyah, Hubungan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ( SKI ) Dengan Kecerdasan Kognitif Siswa Kelas XII MA. Al-Falah Jakarta, h.34-35.
[6]Fadli SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm.33.

Jumat, 24 November 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

   Psikologi pendidikan esensinya merupakan aplikasi teori dan metode psikologi ke dalam dunia pendidikan atau pembelajaran. Metode-metode psikologi dalam banyak hal aplikatif dibidang layanan pendidikan dengan pendekatan psikologis. Metode merupakan cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, metode psikologi pendidikan adalah cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran. Aplikasi metode ini didasari atas pertimbangan, esensi, hakikat, dan prinsip-prinsip tentang prilaku siswa dalam situasi pendidikan dan pembelajaran.
Meski bukanlah seorang psikolog, aplikasi metode-metode ini kerap dipakai oleh guru Bimbingan Konseling/ Karir atau guru pada umumnya. Tentu saja, kemampuan sebagian guru relatif terbatas dibandingkan dengan psikolog dan konselor sekolah yang dikhususkan. Namun demikian, mereka ini untuk hal-hal tertentu dan dalam batas-batas tertentu pula dapat menerapkan metode tersebut untuk memahami dan memecahkan problem-problem pendidikan dan pembelajaran siswa. Aplikasi metode ini diperuntukkan bagi keperluan pemahaman kondisi awal, pengumpulan data, analisis data, refleksi, perumusan simpulan, dan rekomendasi untuk solusi. Beberapa metode yang lazim dipakai dalam psikologi pendidikan disajikan berikut ini.
1.      Metode Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data untuk mengetahui kondisi siswa dari sisi aneka keunggulan, masalah, serta prilaku dan faktor-faktor penyebabnya adalah wawancara. Instrumen yang digunakan oleh psikolog pendidikan atau guru dalam kerangka ini adalah pedoman wawancara. Metode wawancara biasannya dilakukan kepada siswa secara individual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Wawancara pada siswa yang memiliki masalah spesifik harus dilakukan secara individual. Kegiatan ini biasanya dilakukan melalui kontrak langsung secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan.
Wawancara ada dua jenis, yaitu wawancara relatif berstruktur dan wawancara bebas. Wawancara relatif berstruktur adalah wawancara yang dilakukan oleh guru kepada siswa dengan mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan disertai alternatif jawabannya, namun sangat terbuka bagi perluasan jawaban.pertanyaan yang yang diikuti alternatif jawaban itu biasanya hanya pertanyaan pertama, sebagai pertanyaan pancing untuk bertanya secara devergen atau mengembang. Jawaban yang diberikan terwawancara tidak berarti tidak dapat keluar dari alternatif yang di buat oleh guru atau psikolog pendidikan.
Wawancara tidak berstruktur identik dengan wawancara bebas dan paling umum dipakai ketika psikolog pendidikan atau guru menentukan permasalahan atau aspirasi siswa secara tiba-tiba. Di sini, psikolog pendidikan hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar siswa secara bebas. Pandangan, pendapat, sikap dan keyakinan siswa yang diwawancarai tidak banyak dipengaruhi psikolog pendidik atau guru. Pelaksanaan wawancara biasanya berlangsung secara informal, luwes dan seringkali harus dilakukan wawancara ulang untuk hal yang sama.
Pedoman wawancara hanya berupa pertanyaan atau pertanyaan singkat, dengan membuka kemungkinan menerima jawaban panjang. Untuk wawancara jenis ini, keterampilan dan kejelian psikolog pendidikan atau guru lebih dituntut. Dia harus menguasai permasalahan, agar jawaban dapat disimpulkan dan muara pembicaraan dapat dikontrol. Secara umum langkah-langkah wawancara disajikan sebagai berikut.
a.       Pembukaan, dimana psikolog pendidikan atau guru menciptakan suasana yang kondusif, memberikan penjelasan tentang fokus dan tujuan wawancara, serta waktu yang akan dipakai, dan sebagainya.
b.      Pelaksanaan, dimana psikolog pendidikan atau guru memasuki inti wawancara, sifat kondusif tetap di perlukan dan juga suasana informal.
c.       Penutup, berupa pengakhiran dari wawancara, ucapan terima kasih, kemungkinan wawancara lebih lanjut, tindak lanjut yang bakal dilakukan, dan sebagainya.
2.      Metode Intropeksi
Secara historis intropeksi adalah metode tertua dari semua metode pendidikan. Metode ini sebelumnya digunakan dalam filsafat dan kemudian dalam psikologi untuk mengumpulkan data tentang pengalaman sadar subjek. Intropeksi berarti melihat secara mendalam melalui pengamatan diri sendiri atau pribadi. Metode ini dipakai untuk memahami kesehatan mental dan keadaan  pikiran sendiri. Metode ini dikembangkan oleh penganut aliran strukturalis dalam psikologi yang mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang pengalaman sadar individu.
3.      Metode observasi
Dengan perkembangan psikologi sebagai ilmu objektif tentang prilaku, metode intropeksi digantikan oleh pengamatan seksama terhadap prilaku manusia atau  hewan. Pengamatan secara harfiah berarti mencari diluar diri. Ini adalah metode yang sangat penting untuk mengumpulkan data hampir semua jenis penelitian, termasuk dibidang psikolog pendidikan. Pengamatan dilakukan secara langsung atau tidak langsung, terjadwal atau tidak terjadwal, alami atau buatan, atau peserta dan non peserta.
Metode observasi dilakukan degan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku siswa dalam keadaan yang wajar. Kegiatan ini dilakukan oleh psikolog pendidikan atau guru secara berencana, sistematik, dan continyu. Hasil observasi dicatat atau direkam secara lengkap. Kegiatan observasi ii bisa dilakukan secara langsung, bisa juga menggunakan media teknologi. Di sekolah-sekolah modern, biasanya sudah tersedia close circuit television (cctv) untuk mengobservasi siswa yang sering terlambat, prilaku siswa dikelas dan dilaboratorium, bahkan prilaku mereka dikampus sekolah.
Kegiatan observasi tanpa bantuan teknologi sebaiknya dilakukan dengan pendekatan partisipasif. Untuk terlaksananya observasi dengan baik, psikolog pendidikan atau guru perlu menyusun pedoman atau garis-garis besar fokus observasi. Pedoman observasi itu juga bisa dalam bentuk daftar cek (chek list) atau daftar isian. Fokus objek observasi dapat terbatas dan dapat pula luas spektrumnya. Untuk fokus yang terbatas, psikolog pendidikan atau guru dapat melakukannya sendiri. Jika fokusnya luas atau banyak, seringkali psikolog pendidikan atau guru harus meminta bantuan kepada orang lain. Bantuan orang lain dapat dilakukan, jika yang meminta bantuan tersebut mempunyai kemampuan yang relatif sama dengan psikolog pendidikan atau guru.
4.      Metode Tes
Untuk mengetahui minat, bakat, potensi, tingkat kecerdasan, dan kecendrungan-kecendrungan lainnya dari siswa, seringkali psikolog pendidikan atau guru (dengan meminta bantuan psikolog) melakukan tes kepada siswanya. Ada beberapa macam tes, misalnya tes intelegensi, tes sikap, tes kecepatan reaksi, tes hasil belajar, dan sebagainya. Hasil tes ini dianalisis sedemikian rupa untuk “memporsikan” siswa sesuai dengan tujuan tes tersebut.
5.      Metode Kuisioner
Angket kuisioner adalah seperangkat pertanyaan atau pernyataan terlulis dalam lembar kertas atau sejenisnya dan disampaikan oleh psikolog pendidikan atau guru kepada siswa untuk diisi tanpa intervensi pihak lain. Kuisioner dapat bersifat terbuka atau tertutup.
Kuisioner terbuka adalah kuisioner yang berisi sejumlah pertanyaan yang jawabannya ditentukan oleh siswa tanpa perlu “dipadu jawabannya” oleh psikolog pendidikan atau guru. Psikolog pendidikan atau guru tidak menentukan alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan.sebuah kuisioner dikatakan memenuhi syarat, jika dirumuskan secara singkat dan dapat dicerna isinya, mempunyai urutan yang logis, jawaban yang diminta engacu pada fokus, mengundang jawaban bebas dari subjek, hanya untuk tujuan menjaring data bagi kepentingan pendidikan dan pembelajaran, jawaban yang ada memungkinkan ditafsirkan secara tepat, dan jimlahnya sesuai kebutuhan. Jawaban-jawaban atas kuisioner itu kemudian dianalisis dan disimpulkan.
6.      Studi Kasus
Studi kasus merupakan kajian atau penelitian mendalam tentang subjek. Studi kasus juga bermakna analisis mendalam tentang seseorang, kelompok, atau fenomena. Berbagai teknik yang digunakan dalam kerangka studi kasus antara lain adalah wawancara pribadi, tes psikometri, pengamatan langsung, dan catatan arsip. Studi kasus yang paling sering digunakan dalam psikologi klinis penelitian untuk menggambarkan pristiwa langkah dan kondisi mengenai subjek. Studi kasus semacam ini khusus yang digunakan dalam psikolog.
7.      Metode Lainnya
Beberapa metode lainnya yang dapat dipakai oleh psikolog pendidikan atau guru adalah eksperimen (baik semu maupun sungguhan), metode diferensial, metode klinis, dan sebagainnya. Metode eksperimen telah dikembangkan dalam psikologi dengan upaya terus menerus oleh para psikolog untuk membuat penelitian objektif dan ilmiah tentang prilaku manusia. Salah satu konstribusi utama behaviorisme adalah pengembangan metode eksperimental untuk memahami, megendalikan, dan memprediksi prilaku. Metode eksperimen merupakan pengamatan yang palling tepat , terencana dan sistematis. Metode percobaan menggunakan prosedur sistematis yang disebut desain eksperimental. Desain eksperimental memberikan garis penduan penting bagi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya secara sitematis.
Metode klinis terutama digunakan untuk mengumpulkan informasi rinci tentang masalah prilaku kasus tidak menyesuaikan diri dan menyimpang. Tujuan utama dari metode ini adalah studi atas kasus individu atau kasus kelompok untuk mendeteksi dan mendiagnosa masalah-masalah khusus mereka dan menyerankan langkah-langkah terapi untuk merehabilitasi mereka dilingkungan mereka. Metode diferensial digunakan untuk meneliti perbedan-perbedaan individual yang terdapat diantara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran serta menggunakan statistik untuk menganalisis data sanngat lazim dalam metode-metode psikolog. Metode klinis digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai prilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.

Referensi buku :

Prof. Dr. Sudarwan danim dan Dr. H. Khairil, PSIKOLOGI PENDIDIKAN (dalam prespektif baru), alfabet , bandung, 2011.