Belajar tidak hanya sebatas mengetahui apa yang harus kita lakukan, melainkan melakukan apa yang tidak kita ketahui.

sebelum anda mencoba sesuatu belajarlah

sukses akan datanng kepada mereka yang sibuk mencarinya

jangan menunda sampai besok hal yanng akan kita lakukan hari ini.

kata-katamu adalah kualitas dirimu dan kualitas dirimu iti adalah ukuran kesuksesan yang pantas kamu dapatkan

Free Flower Color Change2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Kamis, 14 Desember 2017

Pengangkatan Muhammad SAW menjadi Nabi dan Rasul


Selagi usia Rasulallah shalallahu Alaihi Wasallam hampir mencapai 40 tahun, sesuatu yang paling disukai adalah mengasingkan diri. Dengan membawa roti dari gandum dan air beliau pergi ke gua Hira di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira 2 mill dari mekkah. Pilihan beliau untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau, sebagai langkah persiapan untuk menunggu urusan besar yang sedang ditunggunya.
Begitulah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Muhammad saw, untuk mengemban amanat yang besar , merubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama tiga tahun bagi Muhammad saw sebelum membebaninya dengan risalah. Pada bulan ramadhan pada tahun ke tiga dari masa pengasingannya di goa hiro, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmatnya kepada penghuni, memuliakan beliau dengan nubuah dengan menurunkan malaikat jibril dengan membawa ayat-ayat Al-Qur’an.[1]
Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur di gua hiro, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya (bacalah) dengan terkejut Muhammad menjawab (saya tidak dapat membaca). Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya kemudian dilepaskan lagi seraya berkata lagi (bacalah) masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab (apa yang harus saya baca) seterusnya malaikat itu berkata
Artinya:“bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu maha mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Allah telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui. Dengan wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah sebagai Nabi. Dalam wahyu pertama ini dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama”. QS 96: 1-5[2]
Muhammad terdiam bak patung dan tubuhnya gemetar. Ia menyimak kalimat itu denga susah payah. Usia beliau saat itu 40 tahun, 6 bulan, 12 hari berdasarkan penanggalan hijriyah, atau sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari menurut penanggalan masehi. Malam itu adalah awal masa kenabian Muhammad.

B.            Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah
Dalam menjalankan dakwahnya di Mekkah, ada dua fase yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan.
Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Nabi Muhammad saw memulai dakwahnya setelah menerim perintah Allah swt.
“hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosamu tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk memenuhi perintah tuhanmu bersabarlah.” (QS. Al-Mudatsir: 1-7)
Pada mulanya Nabi saw berdakwah kepada orang-orang terdekatnya, kemudian kepada sahabat-sahabat karibnya. Dia menyeru kepada agama islam. Beberapa anggota sahabat dan keluarganya memenuhi seruan Nabi, mereka adalah Khadijah, Zaid bin Harits, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar As-Syidiq.[3]

C.            Tokoh-tokoh Assabiquna Awwalun (golongan pertama yang masuk Islam)
Dalam QS. At-Taubah Allah swt berfirman:
Artinya: orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin, dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka, dan Allah menyediakan baginya surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selam-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

1.      Khadijah binti Khuwailid
2.      Ali bin Abi Thalib
3.      Abu Bakar As-Syidiq
4.      Zaid bin Haritsah
5.      Utsman bin Affan
6.      Zubair
7.      Sa’ad bin Abi Waqash
8.      Thalhah bin Ubaidillah
9.      Abdurrahman bin Auf
10.  Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
11.  Abu Salamah bin Abdul Asad
12.  Arqom bin Abil Arqom
13.  Utman bin Madz’un
14.  Ubaidah bin Al-Harits
15.  Said bin Zaid bin amru
16.  Asma’ binti As-Shadiq
17.  Khabab bin Al-Arat Al-Khaza’i
18.  Amir bin Abi Waqash
19.  Abdullah bin Mas’ud
20.  Mas’ud bin Rabiah

21.  Sulaith bin Amru
22.  Ilyas bin Abi Robiah
23.  Khunasis bin Khudafah As-Sahmi
24.  Amir bin Rabiah
25.  Abdullah bin Jahsy
26.  Ja’far bin Abi Thalib
27.  Hathib bin Harits
28.  Waqid bin Abdullah
29.  Khalid
30.  Amir
31.  Aqil
32.  Amar bin Yasar
33.  Shohib bin Sinan
34.  Khalid bin Said
35.  Abbas bin Abdul Muthalib
36.  Abdullah bin Rawahah
37.  Mus’ab bin Umair
38.  Aisyah
39.  Mus’adz bin jabal
40.  Arwa’ binti kuraiz

D.           Kondsi masyarakat arab pra islam
1.    Kepercayaan masyarakat arab sebelum islam
Pada awalnya, masyarakat mekkah adalah penganut agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Kemudian dilanjutkan oleh putranya Nbi Ismail as. Perjalanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar (istrinya), dan Nabi Ismail (putranya) membuahkan sejumlah ajaran dan kebudayaan Islam yang sampai sekarang terpelihara, seperti ka’bah, maqom Ibrahim, dan peristiwa qurban. Bahkan proses perjalanan keluarga ini dinapaktilasi umat islam dalam salah satu rukun haji.
Setelah Nabi Ismail as. Wafat, masyarakat arab mulai pindah menyembah selain Allah. Proses perpindahan kepercayaan itu berasal dari Amir bin Lubai seorang pembesar suku Khuza’ah yang melakukan perjalanan ke syam (syiria). Mereka melihat penduduk syam beribadah dengan menyembah berhala. Dia tertarik umtuk mempelajarinya di mekkah. Dia membawa berhala yang diberi nama Hubal dan diletakkan di ka’bah. Berhala Hubal menjadi pimpinan dari berhala yang lainnya seperti Latta, Uzza dan Manna.
Dia mengajarkan kepada masyarakat mekkah bagaimana cara menyembah berhala. Sehingga masyarakat mekkah yakin bahwa berhala adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada tuhannya. Sejak saat itulah mereka membuat berhala-berhala hingga berjumlah 360 berhala dan di letakkan mengelilingi ka’bah. Dan mulailah kepercayaan baru masuk ke masyarakat mekkah dan kota mekkah menjadi pusat penyembahan berhala.
Ketika melaksanakan haji, bangsa arab melihat berhala-berhala itu disekitar ka’bah. Mereka bertanya alasan menyembah berhala. Para pembesar menjawab bahwa berhala-berhala itu adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada tuhan.setelah itu mereka kembali ke daerahnya dan meniru cara ibadah masyarakat mekkah. Mulailah kepercayaan baru menyebar di seluruh jazirah Arab.
Imam bukhari meriwayatkan hadis denagn sanad dari Ibnu Abbas yang berbunyi: patung-patung yang ada pada zaman Nabi Nuh as. Merupakan patung-patung yang disembah pula dikalangan bangsa Arab setelah itu. Adapun Wudd adalah patung berhala yang disembah oleh suku Kaib di Daumatul Jandal. Suwa adalah sesembahan Hudzail. Yoghuts adalah sesembahan suku Murad, kemudian berpindah ke Bani Ghatifdi di lereng bukit yang terletak di kota Saba.
Adapun Ya’uq adalah sesembahan suku Hmdan, Nasr sesembahan suku Himyar dan keluarga Dzi Kila’. Padahal nama-nama itu adalah nama orang-orang shalih di zamana Nabi Nuh as. Setelah mereka wafat, setan membisikkan kaum yang shalih supaya di buat patung-patung mereka di tempat-tempat pertemuan dan menamainya sesuai dengan nama-nama mereka. Patung-ptung itu tidak disembah sebelum orang-orang shalih itu mati dan ilmunya telah hilang. Dari situlah, penyembahan terhadap berhala-berhala mulai.
Masa itu disebut Jahiliyyah. Jahiliyah bukan berarti mereka bodoh dari keilmuannya, namun mereka bidih dari keimanan kepada Allah swt seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as. Mereka menyimpangkan ajaran Nabi Ibrahim as. Adapun faktor-faktor penympangan tersebut adalah:
a.    Adanya kebutuhan terrhadap tuhan yang selalu bersama mereka terutama saat mereka membutuhkan.
b.    Kecederungan kuat mengagungkan leluhur yang telah berjasa terutama kepala kabilah nenek moyang mereka.
c.    Rasa takut yang kuat menghadapi kekuatan alam yang menimbulkan bencana mendorong mereka mencari kekuatan lain diluar islam.
Disamping kepercayaan terhadap penyembahan berhala, ada kepercayaan lain yang berkembang di mekkah yaitu:
a.    Menyembah malaikat
Sebagian besar masyarakat arab menyembah dan menuhankan malaikat. Bahkan sebagian masyarakat beranggapan bahwa malaikat adalah putri tuhan
b.    Menyembah jin, ruh, dan hantu
Sebagian masyarakat arab menyembah jin, hantu, dan ruh leluhur mereka. Mereka mengadakan sesajian berupa kurban binatang sebagai bahan sajian supaya mereka terhindar dari bahaya dan bencana.
Di saat-saat islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Akan datang beberapa orang telah berusaha untuk tidak enyembah berhala lagi dan berbalik menyebarkan ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim as. Diantara mereka adalah Waraqah bin Naufa, Umayyah bin Shalt, Qus Saidah, Usman bin Khuairis, Abdullah bin Jahsyi, dan Zainal bin Umar, mereka adalah kelompok yang menentang tradisi menyembah berhala. Namun mereka meninggal sebelum datangnya islam.
2.    Kondisi sosial masyarakat Mekkah sebelum Islam
Bangsa arab memiliki karakter yang posiif seperti pemberani, ketahanan fisik, kekuatan daya ingat, hormat akan harga diri dan martabat, penganut kebebasan, loyal terhadap pemimpin, pola hidup sederhana, ramah, ahli syair dan sebagainya. Tapi karakter baik mereka terkikis oleh kejahiliyahan mereka.
Mereka melakukan kebiasaan buruk seperti minum kamar (arak) sampai mabuk, berzina, berjudi, merampok dan sebagainya.mereka menempatkan perempuan pada kedudukan yang sangat rendah. Perempuan dianggap sebagai binatang piaraan dan tidak memiliki kehormatan dan keberanian untuk membela diri. Laki-laki memiliki kebebasan untuk menikahi dan menceraikan semaunya.
Tradisi yang terburuk adalah mengubur anak perempuan mereka secara hidup-hidup. Mereka merasa  malu dan terhina memiliki anak perempuan dan marah jika istrinya melahirkan anak perempauan. Mereka meyakini bahwa anak perempuan akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan.
Selain itu, sistem perbudakan berlaku di masyarakat arab. Para majikan memiliki kebebasan untuk memperlakukan budaknya, bahkan memperlakuan budaknya seperti binatang dan barang dagang yang bisa dijual atau dibunuh.posisi budak tidak memiliki kebebasan hidup yang layak dan manusiawi.

2.    Kondisi ekonomi masyarakat Mekkah sebelum Islam
Bangsa Arab memiliki mata pencaharian bidang perdagangan, pertanian dan peternakan. Peternakan menjadi sumber kehidupan bagi Arab Badui. Mereka berpindah-pindah menggiring ternaknya ke daerah yang sedang musim hujan atau ke padang rumput. Mereka mengkonsumsi daging dan susu dari ternaknya. Serta membuat pakaian dan kemanya dari bulu domba. Jika telah terpenuhi kebutuhannya, mereka menjualnya kepada orang lain. Orang kaya di kalangan mereka terlihat dari banyak hewan ternaknya.[4]
Selain Arab Badui, ebagian masyarakat perkotaan yang menjadikan peternakan sebagai ladang penghidupan. Ada yang menjadi penggembala ternak milik sendiri, ada juga yang menggemabala ternak milik orang lain. Seperti Nabi Muhammad saw, ketika tinggal di suku Bani Sa’ad, beliau seorang penggembala kambing, begitu juga Umar bin Khaththab, Ibnu Mas’ud dan lain sebagainya.
Adapun masyarakat perkotaan yang tinggal di daerah yang subur seperti Yaman, Thaif, Madinah, Najd, Khaibar atau yang lainnya, mereka menggantungkan sumber kehidupan pada pertanian. Selain pertanian, mayoritas dari mereka memilih perniagaan sebagai mata pencaharian, khususnya penduduk Mekkah. Mereka memiliki pusat perniagaan istimewa. Penduduk Mekkah memiliki kedudukan tersendiri dalam perdagangan orang-orang Arab. Yaitu mereka penduduk negeri Haram (Mekkah). Orang-orang Arab lain tidak akan mengganggu mereka, juga tidak akan mengganggu perniagaan mereka. Allah swt telah menganugrahkan hal itu kepada mereka. Allah swt berfirman dalam QS al-Ankabut [29] : 67
اَوَلَمْ يَرَوْاَنَّاجَعَلْنَاحَرَمًاآمِنًاوَيُتَغَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِحِمْ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللهِ يَكْفُرُوْنَ◌
Artinya : dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?
Suku Quraisy adalah penduduk mekkah yang memegang peranan dalam perniagaan di jazirah arab. Mereka mendapatkan pengalaman dari orang-orang Yaman yang pindah ke Mekkah. Orang-orang Yaman terkenal keahliannya dalam bidang perniagaan. Selain itu kota Mekkah memiliki ka’bah sebagai tempat orang-orang di Jazirah Arab melaksanakan haji. Mereka datang untuk melaksanakan hji tiap tahun.
Kebiasaan orang-orang quraisy mengadakan perjalanan dagangnya ke daerah-daerah lain. Allah swt mengabadikan perjalanan dagang mereka sebagai perjalanan dagang yang terkenal. Yaitu perjalan musim dingin menuju Yaman, dan sebaliknya pada musim panas menuju Syam. Allah berfirman:
لِأِيْلاَفِ قُرَيْشٍ◌إِيْلاَفِهِمْ رِحْلَتَ الشِّتَآءِوَالصَّيْفِ◌فَلْيَعْبُدُوارَبَّ هٰذَالْبَيْتِ◌الَّذِى اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَءَمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ◌
Artinya: karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (yaitu) bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (ka’bah). Yang telah memberikan makan mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS Quraisy [106] : 1-4)
Dalam bidang ekonomi, riba sudah menjadi tradisi dan lazim dipraktikkan di Jazirah Arab. Bahkan Mekkah sebagai pusat sudah terpengaruhi sistem riba. Hal ini bisa terjadi karena terpengaruh dengan sistem perdagangan yang dilakukan oleh bangsa lain.[5]
Adapun alat transportasi pada zaman itu adalah unta, yang dianggap sebagai perahu padang pasir. Unta merupakan kendaraa yang menakjubkan. Unta memiliki kekuatan yang tangguh, mampu menahan haus dan mampu melakukan perjalanan yang  jauh. Unta-unta ini pergi membawa barang dagangan dari suatu negeri ke negeri lain untuk diperjual belikan.
3.    Kondisi politik Masyarakat Arab Sebelum Islam
Sebelum datangnya Islam, ada tiga kekuatan politik besar yang mempengaruhi politik Arab, yaitu kekaisaran Nasrani Byzantium, kekaisaran persia yang menganut agama Zoroaster, serta dinasti Himyar yang berkuaa di Arab bagian selatan.
Kekaisaran Byzantium dan kekaisaran romawi timur dengan ibukota konstantinopel, bekas Imperium Romawi masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah imperium meliputi asia kecil, syiria, mesir, dan sebagian daerah italia, serta sejumlah wilayah dipesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya..
Sedangkan kekaisaran pesia berada di bawah  kekuasaan dinasti sasanid (Sasaniyah). Ibukota persia adalah al-madana’interletak sekitar 20 mil sebelah tenggara kota Baghdad yang sekarang. Wilayah kekasaannya terbentang dari Irak dan Mesotopamia hingga pedalaman Iran hingga Afganistan.
Kondisi politik jazirah Arab terdiri dari dua hal, pertama, interaksi dunia Arab dengan kekaisaran Byzantium dan persia. Kedua, persaingan antara agama Yahudi, Nasrani, dan Zoroater.

[1] Syeh shafiurrohman al mubarok furi, siroh namawiyah, (alkautsar buku islam utama, 2006), hlm 89-90
[2] Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta, Litera Antar Nusa, 2001 hal.79[3] Shafiy al-Rahman al-Mubarakfuri Sirah Nabawiyah (Cet. 6, Jakarta: Pustaka al Kautsar, 1997), h. 103-104
[4] Dr. Badri Yatim, op. Cit, hlm 15
[5] Burhan Al-Din, Jazirat Arab al-Islam Beirut: Tp. 1989 hlm 21

Selasa, 12 Desember 2017

Tokoh- Tokoh dalam Perkembangan Islam Di Masa Modern





Modernisasi diambil dari kata dasar “modern” yang artinya terbaru, cara baru, mutakhir atau sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntunan zaman. Sedangkan modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntunan hidup masa kini. Artinya cara berfikir, aliran gerakan dan usaha untuk merubah faham, adat-istiadat dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[1]
Periode modern ini merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang berakhir di tahun 180 M, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir.[2] Berikut ini akan dibahas mengenai tokoh-tokoh dalam pembaharu islam :
1.    Gerakan Pembaharuan Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1793)
Muhammad bin Abdul Wahab lahir di Uyainah, Nejd, Arab Saudi pada tahun 1703. Ia dilahirkan dari keluarga yang terkenal dengan kesalehan dan keimanannya. Ia mempunyai gerakan yang kemudian dikenal dengan gerakan wahabi. Timbulnya gerakan ini tidak lepas dari kondisi umat Islam pada saat itu, yakni sebagai berikut:
a.    Secara politik, umat Islam di seluruh kawasan kekuasaan Islam berada dalam keadaan yang lemah. Ketika itu yang berkuasa adalah kerajaan Turki Utsmani yang merupakan penguasa tunggal, namun kerajaan itu sedang mengalami kemunduran dalam segala bidang.
b.    Adanya penurunan semangat dalam pemahaman Al-Qur’an karena umat Islam bersikap fatalis dan cenderung mistisisme.
c.    Tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,  telah dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan syirik.
d.   Kota-kota suci, seperti Makkah dan Madinah, telah menjadi tempat yang penuh dengan penyimpangan akidah.
Gerakan wahabi ini berhasil berkat bantuan kepala suku yang bernama Muhammad Ibnu Saud yang kemudian mendirikan kerajaan di bawah pimpinan keturunannya.
2.    Gerakan Pembaharuan Jamaluddin al-Afgani (1839-1897)
Nama lengkapnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani. Ia lahir di Asadabad tahun 1839 dan wafat di Istambul tahun 1897. Ia mendapat gelar sayyid karena ia keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sejak kecil, ia sudah belajar membaca AL-Qur’an, bahasa Arab, dan Persia, serta ilmu-ilmu lainnya, seperti tafsir, hadits tasawuf, dan filsafat.
Ketika terjadi persoalan politik di Mesir, ia pergi Paris (Prancis). Di kota ini dia mendirikan sebuah organisasi bernama AL-Urwatul Wusqa yang beranggotakan muslim militan  di Mesir, Suriyah, dan Afrika Utara. Organisasi ini bertujuan mempercepat  persaudaraan islam, membela, dan mendorong umat islam  untuk mencapai kemajuan.
Berikut ini beberapa pemikiran Al-Afghani tentang pembaruan umat Islam :
1.      Kemunduran umat Islam bukan karena Islam tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi. Kemunduran itu disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa  factor, yaitu :
a.    Umat Islam telah meninggalkan akhlak yang tinggi dan telah melupakan ilmu pengetahuan.
b.    Di bidang politik , kesatuan umat Islam menjadi terpecah belah.
2.    Untuk mengembalikan kejayaan pada masa lalu dan sekaligus menghadapi dunia modern, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang murni dan Islam harus dipahami dengan akal serta kebebasan.
3.    Corak pemerintahan otokrasi dan absolut harus diganti dengan pemerintahan demokratis. Kepala negara harus bermusyawarah dengan pemuka masyarakat yang berpengalaman.
4.    Tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Pan Islamisme atau rasa solidaritas antara umat Islam harus dihidupkan kembali.
2.    Gerakan Pembaharuan Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935)
Rasyid Ridha lahir di Al-Qalamun pada tanggal 23 September 1865. Ada yang mengatakan silsilahnya bersambung dengan Nabi Muhammad SAW. melalui garis keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib sehingga ia mendapat gelar sayyid. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga terhormat serta taat agama.[3]
Rasyid Ridha banyak menyerap pikiran dan pandangan Muhammad Abduh (gurunya) dalam usaha memajukan umat Islam. Rasyid Ridha mengusulkan kepada gurunya agar ia menerbitkan sebuah majalah. Maka terbitlah majalah yang diberi nama Al- Manar, nama yang diusulkan oleh Rasyid Ridha .
Adapun pemikiran Rasyid Ridha tentang pembaruan Islam sebagai berikut :
a.    Sikap aktif dan dinamis di kalangan umat Islam harus ditumbuhkan.
b.    Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi jika ingin maju.
c.    Kebahagiaan di dunia dan di akhirat diperoleh melalui hukum yang diciptakan Allah SWT.
d.   Perlu menghidupkan kembali sistem pemerintahan khalifah.
e.    Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia Islam yang mengurusi bidang agama dan politik .
3.    Gerakan Pembaharuan Muhammad Iqbal (1876-1938)
Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab pada tanggal 2 Februari 1873 M. Ia adalah seorang penyair, filusuf, dan mujadid. Muhammad Iqbal mendapat pendidikan pertama di Murray College, Sialkot.
Adapun ide Muhammad Iqbal tentang pembaruan Islam adalah sebagai berikut :
a.    Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaruan Islam dan pintu ijtihad tetap terbuka.
b.    Umat Islam perlu mengembangkan sikap dinamis. Dalam syiarnya, ia mendorong umat Islam untuk bergerak dan jangan tinggal diam.
c.    Kemunduran umat Islam disebabkan oleh kebekuan atau kejumudan dalam berpikir.
d.   Hukum Islam tidak bersifat statis, tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
e.    Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi yang dimiliki Barat.
f.     Perhatian umat Islam terhadap zuhud menyebabkan mereka kurang memerhatikan masalah- masalah keduniaan dan sosial dan kemasyarakatan.
4.    Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an.
B.  Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di indonesia               
Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada tiga teori yang berkembang[4] yaitu:
1.    Teori Gujarat
Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke    Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a.    Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
b.    Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah – Eropa.
c.    Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.
2.    Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
a.    Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
b.    Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c.    Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
3.    Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
a.    Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan  Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah / Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
b.    Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
c.    Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi Harakat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
C.  Proses masuknya Islam ke Indonesia
Proses masuknya islam dilakukan secara damai dan dilakukan dengan cara- cara sebagai berikut.
1.    Melalui Cara Perdagangan
Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan laut yang menghubungkan antara China dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk para pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di Nusantara. Para pedagang ini juga tak jarang mengundang para ulama dan mubaligh dari negeri asal mereka ke nusantara. Para ulama dan mubaligh yang datang atas undangan para pedagang inilah yang diduga memiliki salah satu peran penting dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia.
2.    Pendekatan politik
Masuknya Islam melalui saluran ini dapat terlihat ketika Samudera Pasai menjadi kerajaan, banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam.Proses seperti ini terjadi pula di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Dari sini dapat dikatakan pula bahwa kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam.
3.    Melalui Perkawinan
Bagi masyarakat pribumi, para pedagang muslim dianggap sebagai kelangan yang terpandang. Hal ini menyebabkan banyak penguasa pribumi tertarik untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu. Pernikahan secara muslim antara para saudagar muslim dengan penguasa lokal ini semakin memperlancar penyebaran Islam di Nusantara.
4.    Melalui Pendidikan
Pengajaran dan pendidikan Islam mulai dilakukan setelah masyarakat islam terbentuk. Pendidikan dilakukan di pesantren ataupun di pondok yang dibimbing oleh guru agama, ulama, ataupun kyai. Para santri yang telah lulus akan pulang ke kampung halamannya dan akan mendakwahkan Islam di kampung masing-masing.
5.    Melalui Kesenian
Wayang adalah salah satu sarana kesenian untuk menyebarkan islam kepada penduduk lokal. Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh terpandang yang mementaskan wayang untuk mengenalkan agama Islam. Cerita wayang yang dipentaskan biasanya dipetik dari kisah Mahabrata atau Ramayana yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai Islam.
6.    Pengobatan
Pengobatan menjadi salah satu cara para ulama dalam menyebarkan islam kepada masyarakat Indonesia. Hal ini tidak hanya dilakukan kepada msyarakat awam pedesaan tetapi juga kepada para bangsawan bahkan raja dan keluarganya. Beberapa raja dan keluarganya pun masuk Islam setelah diobati oleh para ulama, yang kemudian diikuti oleh rakyatnya.
D.  Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
1.    Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran. Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka.
2.    Kerajaan Demak
Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.
3.    Kerajaan Banten
Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal keagamaan. Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasar-dasar pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama, memerintah tahun 1552 – 1570. Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten dapat berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.
4.    Kerajaan Mataram
Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.
Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.
5.    Kerajaan Gowa-Tallo
Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
6.    Kerajaan Ternate-Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agamaIslam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.[5]




















[1] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam ( Jakarta: Bulan Bintang, 1991), 11
[2] M. Darwin R, Sejarah Peradaban dan Kebudayaan Islam . 20113. H.122
[3] Abdillah F Hasan, Tokoh-Tokoh Mashur Dunia Islam (Surabaya: Jawara Surabaya), 265-266.
[4] Suyoto,  Al-Islam 2, cet.II, 1992, Malang: Pusat Dokumentasi dan Kajian al-Islam  Kemuhammadiyahan Univ. Malang. hal. 202
[5] Sardiman, Sejarah 2 (Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT). 2008. H. 81